OJK Bidik Penyaluran Kredit Tembus Rp8.687 T pada 2025
Jakarta, CNN Indonesia –
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menargetkan penyaluran kredit perbankan tumbuh 9 hingga 11 persen secara tahunan (tahun ke tahun/ yoy) pada 2025.
Goal pertumbuhan penyaluran kredit perbankan pada 2025 naik dari relaksasi pada 2024. Tahun lalu, penyaluran kredit perbankan tumbuh 10,39 persen (yoy) ke Rp7.827 triliun.
Artinya, jika mencapai goal, penyaluran kredit tahun ini bisa mencapai Rp8.687,9 triliun.
IKLAN
Gulir untuk melanjutkan konten
Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar mengatakan laju kredit perbankan tahun ini akan didukung oleh pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK).
“Dana Pihak Ketiga ditargetkan tumbuh 6-8 persen,” ujarnya saat membuka Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan 2025 di JCC Senayan Jakarta, Selasa (10/2).
Sementara, realisasi pertumbuhan DPK pada 2024 sebesar Rp4,48 persen .
Di sisi lain, aset asuransi ditargetkan tumbuh 6 – 8 persen, aset dana pensiun ditargetkan 9 – 11 persen, dan aset penjaminan ditargetkan tumbuh 6-8 persen.
Kemudian, penghimpunan dana di pasar modal ditargetkan mencapai Rp220 triliun dan piutang pembiayaan perusahaan pembiayaan ditargetkan tumbuh 8 sampai 10 persen.
“Kami akan senantiasa melakukan evaluate outlook ini secara berkala untuk diselaraskan dengan perkembangan outlook pertumbuhan ekonomi nasional,” katanya.
Mahendra mengatakan tantangan dan ketidakpastian yang akan dihadapi pada 2025 diperkirakan tidak akan lebih mudah dibandingkan tahun lalu. Hal itu setidaknya tercermin dari pertumbuhan ekonomi international yang diproyeksi meningkat secara terbatas.
Kemudian, normalisasi kebijakan suku bunga Amerika Serikat (AS) dan beberapa negara utama lainnya diperkirakan akan terus berlanjut, tetapi dengan laju yang lebih lambat.
Di sisi lain, divergensi pemulihan ekonomi di antara negara-negara industri berpotensi mempengaruhi arus modal capital dan nilai aset keuangan.
“Kompleksitas pemulihan ekonomi diperkirakan akan meningkat seiring perkembangan geopolitik dan geoekonomi yang dinamis,” kata Mahendra.
Di sisi domestik, sambungnya, industri keuangan dihadapkan pada isu struktural seperti perlunya meningkatkan kembali penyerapan tenaga kerja sektor formal serta mempercepat pemulihan daya beli masyarakat, khususnya untuk kelompok menengah bawah yang pemulihannya masih tertahan.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, kata Mahendra, diperlukan langkah transformatif untuk mencapai goal pertumbuhan yang diharapkan.
“Oleh karena itu, kami menyambut berbagai program prioritas yang diinisiasi pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ke degree yang lebih tinggi dan mencapai visi Indonesia Emas,” ujarnya.
(FBY/SFR)