Pointers Menyiapkan Dana Darurat Bagi Pekerja Kala Badai PHK Menggila
Daftar Isi
Jakarta, CNN Indonesia —
Setiap individu wajib memiliki dana darurat untuk mengantisipasi ketidakpastian, termasuk bagi pekerja yang rutin menerima gaji. Apalagi, kini badai PHK menjadi gila
Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) mencatat PHK menimpa 32.064 tenaga kerja pada semester I 2024. Mayoritas PHK terjadi di Jakarta, yakni sebanyak 23,29 persen atau setara 7.469 orang.
Dana darurat bertujuan untuk membiayai kebutuhan yang tidak terprediksi atau ketika keadaan mendesak terjadi. Besaran nominal dana darurat setiap individu berbeda-beda, bergantung pada penghasilan dan gaya hidup.
Namun, tak sedikit orang yang kesulitan menyiapkan dana darurat karena pendapatan yang tak besar atau bahkan hanya setara upah minimal regional (UMR).
Lantas bagaimana cara menyiapkan dana darurat?
1. Tempatkan di aset likuid
Perencana Keuangan OneShildt Monetary Making plans Budi Rahardjo mengatakan penempatan dana darurat memang harus dilakukan secara khusus. Pasalnya, dana darurat dibutuhkan sewaktu-waktu apabila ada pengeluaran darurat yang mendesak.
“Sehingga prioritas kita memang bukan untuk pertumbuhannya, tapi adalah likuiditas dan keamanan nilai pokoknya,” katanya kepada CNNIndonesia.com.
Budi mengatakan pilihan utama penempatan dana darurat adalah instrumen yang stabil nilainya dan mudah dilikuidasi dalam waktu singkat apabila diperlukan. Adapun jenis aset likuid di antaranya uang tunai dan emas.
Alternatif instrumen yang juga dapat dipilih seperti tabungan berjangka, deposito jangka pendek yang bulanan, atau reksa dana pasar uang.
Senada, Perencana Keuangan Mitra Rencana Edukasi (MRE) Mike Rini Sutikno mengatakan dana darurat sebaiknya ditaruh di instrumen yang aman, risikonya rendah, nilainya tidak berfluktuasi, dan mudah dicairkan kapan saja tanpa kena denda.
Instrumen keuangan seperti tabungan harian, tabungan berjangka, deposito satu bulan, dan reksadana pasar uang dapat dikombinasikan untuk penempatan dana darurat.
“Cara menyimpan dapat dilakukan dengan melakukan setoran rutin bulanan dari gaji ke tabungan, melakukan penempatan dana secara berkala ke deposito bulanan atau melakukan pembelian reksa dana pasar uang, sampai tercapai goal dana daruratnya,” katanya.
2. Tidak Digunakan Untuk Hiburan
Budi mengatakan penggunaan dana darurat tidak boleh dilakukan sembarangan. Dana darurat hanya kondisi darurat yang memang diperlukan dan tidak ditanggung asuransi.
Dana darurat, sambungnya, tidak boleh digunakan untuk hiburan seperti untuk biaya liburan atau belanja konsumtif karena diskon.
“Atau untuk menutupi pengeluaran tahunan yang seharusnya bisa direncanakan, misalnya pengeluaran untuk liburan atau pembayaran pajak tahunan,” katanya.
3. Jumlah Dana Darurat 6-12 Kali Pengeluaran
Mike mengatakan jumlah excellent dana darurat secara umum adalah 6 – 12 kali pengeluaran according to bulan. Namun demikian, jumlah dana darurat dapat disesuaikan dengan kondisi setiap individu.
Bagi yang belum menikah, Mike mengatakan jumlah dana darurat bisa 3 – 6 kali pengeluaran according to bulan. Sedangkan bagi yang sudah berkeluarga berkisar 6 – 12 bulan.
Sementara itu, Budi mengatakan acuan dasar (rule of thumb) kebutuhan dana darurat adalah 3 sampai dengan 6 bulan pengeluaran rata-rata bulanan.
Jika diasumsikan penghasilan UMR bulanan misalnya Rp5 juta dengan rata-rata pengeluaran Rp3 juta according to bulan, maka kebutuhan dana darurat mengacu kepada rata-rata pengeluaran orang atau keluarga tersebut, yaitu dapat berkisar antara Rp9 juta hingga Rp18 juta.
Bagi yang belum menikah, katanya, dapat memilih angka yang lebih kecil yaitu Rp9 juta (3 kali pengeluaran bulanan) dan bagi yang berkeluarga dapat memilih paling tidak memiliki dana darurat Rp 18 juta (enam kali pengeluaran bulanan).
“Dan untuk mengumpulkannya bisa dengan menyisihkan minimum 10 persen dari pendapatan bulanan secara rutin,” katanya.
(pta/pta)